Rabu, 19 Maret 2008

Satu hari, Allah menuntun jemariku untuk membuka blog seorang saudara muslim (punten bgt, alamat blog gak sempat kecatet). Isinya benar2 bikin merinding.
Astagfirullah.....ternyata masih sangat jauh dari sempurna perilaku selama ini
Semoga bisa menjadi 'pencerahan' untuk semua.
Aminnnn


Menjadi hamba Allah dalam arti yang sebenarnya, tentulah tidak cukup hanya sekadar pengakuan yang tanpa diiringi oleh amal untuk menuju kearah itu.
Oleh karenanya Allah memberikan ciri-ciri hamba Allah yang benar dalam beriman dan beramal. Allah memberinya gelar ‘Ibaadurrahmaan (hamba Allah Yang Maha Pengasih Penyayang).
Kedudukan ini hanya karena ketaatan dan ketinggian akhlaknya, yang sangat pantas menjadi contoh teladan bagi manusia, yang mengaku sebagai hamba Allah.

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Rabb Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.” (QS Maryam: 93)

Alangkah bahagianya, siapa saja yang menyadari betapa indah dan nikmatnya orang yang mengetahui ilmu tentang bagaimana menjadi seorang hamba Allah yang tertuntun dalam cahaya Islam.

Ia tidak akan merelakan sesaat pun, kecuali menjadi jalan untuk mendapatkan curahan kasih sayang Allah.

Ia mewaspadai segala sikapnya.

Pandangannya disiapkan untuk menjadi mata yang dapat memandang Allah di akhirat kelak.Ditahannya sekuat-kuatnya dari segala hal yang tidak akan pernah diridhai-Nya. Dipalingkannya sedemikian rupa dari segala yang diharamkan.
Dijadikannya ladang kegemaran dan kenikmatan membaca surat dari Sang Maha Pencipta.
Pandangannya senantiasa digunakan untuk memandang kesempurnaan dan keindahan karya Sang Pengatur alam.

Pendengarannya ia jaga dan persiapkan menjadi telinga yang dapat mendengarkan merdunya suara percakapan ahli surga.Ia tutup rapat-rapat dari kalimat-kalimat yang menghinakan, suara kotor yang sia-sia, yang membuat hati menjadi keras dan membatu.
Namun sebaliknya, dia buka lebar-lebar telinganya tersebut terhadap kalimat-kalimat dan suara-suara yang dapat membuatnya semakin mengenal dan mengerti Rabbnya.
Ia memahami firman Allah swt, dalam surat al-Isra’ ayat 36.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.”

Pikirannya dikuasai dengan baik dan benar.Tidak terjebak untuk memperumit dan mempersulit masalah yang berkaitan dengan masalah duniawi.
Semua kekuatan berpikirnya ia arahkan untuk menerjemahkan segala urusan dan kejadian di sekitarnya, sehingga menjadi sarana untuk semakin mengenal dan mengagumi kekusaan Alah Yang Mahakuasa.Tidak sempit, namun sebaliknya luas dan lebar serta sangat dalam. Buah pikirannya senantiasa berujung pada pemujaan atas keagungan dan kebesaran Allah swt, karena ia mengamalkan firman Allah, surat Ali Imran ayat 190-191, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi: “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Lisannya ia jaga supaya tidak berucap kata yang menimbulkan penyakit, masalah dan memperkeruh keadaan, sehingga kata-katanya benar serta menyejukan. Ia seringkali membakar semangat untuk senantiasa taat, penuh hikmah dan manfaat, membuat siapapun merasa beruntung mendengarkannya. Jauh dari kalimat-kalimat keji dan kotor, hina dan sia-sia. Bahkan diamnya sekalipun membuat pendengarannya semakin mengingatkan dan merindukan taat kepada Allah. Sementara lidahnya senantiasa basah menyebut asma Allah. Dalam kitab-Nya yang mulia, surat al-Ahzab ayat 35, Allah berfirman, “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah.”

Buruk sangka, iri, dengki, ujub, riya, takabur dan berbagai perilaku hati yang hina lainnya sekuat-kuatnya ia cegah. Tidak pernah rela ada noda penyakit hati bersemayam dalam hatinya. Kalaupun sempat terlintas, maka segera ia menghapus, membasmi dan segera bertaubat.

Tak pernah jemu ia memohon pertolongan Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, agar hatinya tetap jernih dan bersih. Karena ia yakin benar, bahwa tidak akan pernah ada ketenangan dan kemuliaan kecuali dengan hati yang bersih dan jernih.
Tidak akan pernah seseorang merasakan kenikmatan dan kelezatan dalam taat, kecuali dengan hati yang bersih.
Tidak akan pernah seseorang mengenal, mencintai dan merindukan pertemuan dengan Allah, kecuali dengan hati yang bersih.

Senantiasa dihiasi hatinya dengan husnudzdzan (berbaik sangka) kepada Allah dan hamba-hamba-Nya, segala perbuatannya senantiasa berhiaskan ikhlash, tawadhu dan bersih. Ia tahu Allah berfirman, surat asy-Syu’araa’ ayat 88-89,
“Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Wajahnya senantiasa ceria dan senantiasa dihiasi senyuman.

Gerak-geriknya senantiasa terjaga dan terpelihara.

Penampilannya sederhana dan menyenangkan.

Selalu cepat hadir kebaikannya dimanapun ia berada.

Siapapun merasa aman dan tentram dengan kehadirannya.

Sungguh senantiasa mengesankan perilaku dan tindakan-tindakannya.

Betapa penuh pula perhatian dan bakti kepada ayah dan ibunya, keluarga dan saudara-saudaranya.

Gemar menjalin persahabatan, mengeratkan silaturrahmi dan penuh keakraban dengan tetangga-tetangganya.

Ketika ia mendengar seruan adzan, tak pernah ia menunda-nunda langkahnya menuju rumah Allah. Ia segera berwudhu. Dan wudhunya senantiasa bersih dan sempurna.
Khusyu’ dan senantiasa merasakan kenikmatan dalam ibadahnya.
Hari-harinya senantiasa sarat denga sujud dalam ibadah dan syukur atas karunia dan nikmat-Nya.
Abu Ayyub al-Anshari ra bercerita, ada seorang badui menawarkan diri kepada Rasulullah saw dalam perjalanan untuk memegang tali kekang untanya. Kemudian orang itu berkata, “Wahai Rasulullah atau ya Muhammad, beritahukan kepadaku apa yang dapat mendekatkanku kepada surga dan menjauhkanku dari neraka.”
Nabi saw tidak segera menjawab. Beliau memandang para sahabat, seraya bersabda, “Ia benar-benar mendapat petunjuk.”
Kemudian beliau bertanya kepada orang tersebut, “Apa yang engkau katakana tadi?” Orang itu pun mengulangi perkataannya. Lalu Nabi saw bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan salat, menunaikan zakat dan menyambung tali persaudaraan. Sekarang, tinggalkanlah unta itu.” (HR Muslim)

Demikian itu ia lakukan hanya ingin menjadi hamba Allah yang bersih.
Dan, ia ingin tetap menjadi hamba-Nya dengan tidak menyekutukkan-Nya, berusaha mentaati-Nya dengan tidak menentang perintah-Nya, dan membangun akhlak dengan-Nya.
Ia faham, kelak dihari pembalasan, akan kembali kepada Allah tetap sebagai hamba-Nya.

Tidak ada komentar: