Rabu, 30 Januari 2008



23 Mei 2004.....
Aku seperti tidak percaya
Aku sedang duduk didepan tubuh yang terbujur dingin
Tubuh yang tertutup kain batik coklat berbau parfum yang amat aku kenal
Kucubit lenganku, sakit.....
Aku sedang tidak bermimpi
Kali ini aku tidak bisa berharap ada yang membangunkan aku dari mimpi buruk
Saat histeris berteriak karena ditinggal pergi orang yang aku kasihi
Aku benar2 tidak sedang bermimpi
Aku sedang menunggui tubuh dingin milik sosok yang luar biasa dalam hidupku
Pelindungku, pahlawanku, motivatorku, sahabatku, guruku, lawan berdebatku, idolaku, sekutuku, penuntunku, tempat curahan hatiku......

Aku menangis
Sungguh bukan karena aku tidak ikhlas karena kepergiannya
Tapi aku merasa belum secuilpun bisa membahagiakannya
Masih terlalu banyak rencana dan angan2 yang harus aku akhiri
Tanpa pernah bisa lagi mewujudkannya
Itu yang aku sesali

Dalam rasa yang remuk
Aku teringat kenangan2 manis bersamanya
Saat racun mulai menjalar ditubuhku karena tergigit binatang ubur2 biru ditepi pantai
Beliau luarbiasa panik membawaku ke rumah sakit
Saat sepeda baru terpajang di teras rumah menanti kedatanganku dari sekolah
Beliau tersenyum bahagia karena bisa memberiku kejutan
Saat demam berdarah memakan butir2 darahku dan aku nyaris kehilangan kesadaran
Beliau terduduk lemas karena begitu sulit mendapatkan donor yang cocok
Saat aku pulang dari meminjam buku ke rumah teman lebih dari jam 6 sore
Beliau menungguku dengan kekhawatiran juga kemarahan karena melanggar jam malam
Saat aku beraksi dengan tongkat mayoretku
Beliau dengan bangga mengambil pose2ku melalui kamera tuanya
Saat aku menerima gelar sarjana
Beliau menatapku dengan penuh haru
Saat aku bersanding di pelaminan
Beliau lekat mengawasiku seperti takut kehilangan gadis kesayangannya
Begitu banyak kenangan itu......

Anehnya, di hari beliau akan meninggalkan aku
Banyak kejadian yang diluar kewajaran
Kenapa kartu ATM atas nama Beliau tidak bisa digunakan, padahal sehari sebelumnya masih lancar difungsikan
Kenapa puluhan ikan peliharaan Beliau yang dibeli sendiri mati mendadak, padahal ikan2 titipan adik yang lain masih hidup normal?
Kenapa kakak memerintahkan penunggu rumah untuk menyingkirkan kursi2 didalam rumah untuk dikeluarkan, padahal kakak tidak tahu maksud perintahnya sendiri
Kenapa aku terasa berat meninggalkan beliau sedetikpun di ruang ICU, padahal raga ini sama sekali belum mendapatkan asupan apapun
Ternyata semua itu adalah pesan2 dari surga
Yang sama sekali aku tidak bisa memaknai di masa itu

Tapi ada rasa ringan saat melepasnya
Karena diakhir2 hidup beliau
Sedikitpun beliau tidak mau melupakan untuk selalu mengingatNya
Kewajiban sebagai umatNya selalu beliau tunaikan di awal waktu
Bahkan selama 2 minggu terbaring lemah di rumah sakit
Beliau selalu memintaku menuntunnya untuk terus berzikir mengingatNya
Dan di akhir nafas beliau, kalimat terakhir yang terdengar adalah
La ilaha ilallah, tiada Tuhan selain Allah.....

Innalillahi wa ina ilaihi roji’un

Aku tidak bisa menahan sukma beliau untuk berpisah dari raganya
Aku tidak mampu
Aku harus membiarkan Allah mengambil kembali milikNya

Bapak.....
Aku ikhlas melepas
Walaupun rasanya ruhku ikut tercabut
Sehingga sepertinya raga tidak lagi punya semangat untuk hidup

Aku akan terus berusaha menjadi gadis kesayanganmu
Aku akan terus memenuhi tabungan akhiratmu dengan doa anak yang solehah

Tidurlah dengan pulas dalam ruang yang nyaman, sejuk, damai, tenang, terang, luas......
Amin



Sungguh tidak terbersit rasa sesuatu yang lain saat pertama bertemu
Karena berawal dari keterpaksaan situasi yang mengharuskan aku menjabat tangannya
Masa kemudian berjalan.....
Tanpa disadari keterpaksaan itu menjadi kedekatan yang manis
Berawal dari sekedar mencari teman untuk melewati masa diantara beban kuliah
Sampai akhirnya menjadi teman tempat menumpahkan keluh kesah
Tentang semuanya.......
Keluarga, kampus, olahraga, makanan, bahkan tentang kedekatannya dengan lawan jenis
Aku sudah menyiapkan separuh tempat di hidupku untuk menampung keluh kesahnya
Tanpa disadari, 3tahun bukan waktu yang singkat untuk dilalui


Sampai satu saat
Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari cara dia menjalani kedekatan kami
Bukan lagi keluh kesah yang aku terima darinya
Tapi rasa cemburu saat aku ada di sisi yang lain
Rasa khawatir saat aku sendiri menjalani aktifitas
Rasa melindungi saat aku merasa was was melangkah
Rasa mencinta saat aku membutuhkan

Ya Rabb......
Aku berontak
Bukan akhir ini yang aku mau
Rasanya aku belum siap untuk berbagi perasaan dengan yang lain
Tapi Allah Maha Pengatur
Ketika beban kuliah begitu menumpuk di pundak dan kepala
Tiba2 ada tawaran menggiurkan untuk membuang semua beban
Go to the cinema for free at Saturday noon !
Dan pertama dalam hidup
Menikmati layar raksasa hanya berdua dengan teman lain jenis

Tapi justru disaat itu ada perasaan beda ketika aku berada dihadapan layar raksasa
Perasaan seperti sepasang kekasih
Atau aku hanya terbawa suasana diluar teater tadi?
Yang penuh dengan pasangan romantis?
Tapi pasti bukan karena lakon yang sedang aku nikmati di layar
Karena amat jauh dari cerita romantis
The maverick



Senapan, tembak2an, bar, kuda, gurun, gelas2 bir, topi kulit lebar, baju kotak2
Samasekali tidak ada adegan profokatif untuk jadi romantis
Aku mencoba menata perasaan agar bisa kembali seperti dulu
Tapi kenapa begitu sulit?

Dan perasaan lain itu terus bercokol di hati dan ruhku
Setelah sekian lama kenapa perasaan itu harus berada di tempat yang tanpa kepastian?
Sungguh lelah menjalani
Aku seperti berada di tengah lapang yang dipenuhi rumput hijau subur
Tapi aku tidak bisa menapakinya karena kakiku terbelenggu
Karena aku bukan tipe wanita yang gampang menunjukkan dan mengungkapkan rasa hati

Sampai aku tidak mampu lagi membendungnya
Allah........, hamba bermohon kehadapanMu
Apabila dia baik untukku maka dekatkan
Tapi apabila dia tidak baik untukku aku mohon jauhkan

Allah Maha Mendengar
Tepat di hari ke 30 aku bermohon
Allah menuntun dia untuk mengajakku belajar menjalani kehidupan
Berdua.......

Sampai akhirnya kami siap untuk membuka gerbang kehidupan baru
2 tahun mungkin waktu yang amat singkat untuk saling memahami
Tapi keyakinan akan tuntunanNya dalam tiap pijakkan kaki
Akan menjadi modal yang begitu kuat untuk bisa memulai bersatu dalam menjalani hidup

Sekarang, kenangan 13 tahun yang lalu di kencan pertama itu
Masih terus membumbui diperjalanan hidup
Kencan pertama yang samasekali jauh dari romantis........

(dedicated for my husband, the one and only, forever...Amin)
1991, sekitar bulan september...
baru 2 bulan menanggalkan baju putih abu2
rasanya seperti makhluk paling dewasa
karena tanpa terasa telah melewati masa 12 tahun
dengan seragam yang wajib melekat setiap hari
tanpa terasa aku mulai dihadapkan dengan system pembelajaran yang baru

ada satu mata kuliah yang harus dijalani di laboratorium di luar kampus
sekitar 15 menit dari kampus menggunakan sepeda motor

sampai di satu hari aku harus menuju ke sana
sempat ragu ketika menemukan alamat yang tertulis
amat sangat jauh dari bayangan sebuah laboratorium
aku harus memasuki pekarangan yang tertutup pagar besi setengah ambruk
di sebuah rumah tanpa dinding (lebih layak disebut kandang)
dikelilngi barang2 rongsokan (setelahnya aku baru tahu kalau itu adalah alat2 praktikum!)

sempat hati terbawa rasa tidak nyaman
inikah yang dinamakan laboratorium?
rasa sombong juga sempat melintas kala itu
hanya tempat seperti ini yang disediakan
untuk calon2 enginner dengan uang masuk yang tidak murah?
Astagfirullah.............
tapi aku harus ikuti
karena dosen mata kuliah ini terkenal lain dari yang lain
‘killer’, disiplin, anti teori, langsung praktek di lapangan, anti basa basi

ternyata bukan hanya aku yang mengalami shock tiba2
hampir semua teman seperjuangan merasakan hal yang sama
apalagi ketika aku memasuki ruangan yang disebut kelas
hanya tersedia tikar plastik diatas lantai semen,
dengan meja terbuat dari kayu tanpa finishing, tanpa alas
aku harus hati2 agar kulit lenganku tidak tergores saat menulis
dan harus sering2 merubah posisi duduk agar kakiku tidak kram

Ya Allah.... inikah masa yang aku impikan saat masih 'putih abu2?'
teringat dahulu dengan kelas luas, banyak jendela, bangku dan meja yang nyaman,
halaman yang teduh dengan banyak pohon rindang

dan satu ritual yang biasanya ada di jaman ‘putih biru’
sekarang justru harus aku lakoni
setiap masuk dan keluar kelas, buku catatan harus dikumpulkan
agar si’killer’ bisa mengetahui seberapa besar perhatian kami pada materi yang disampaikan
Ya Rabbi, kejutan apalagi ini……….
Lucunya, sifat dasarku tiba2 muncul
Aku ingin membuktikan bahwa si’killer’ itu memang anti basa basi dan disiplin
Di satu pagi, saat harus ke ‘kandang’
Aku sengaja tidak mengerjakan tugasku dengan sempurna
Dan kejadian berikutnya sangat diluar dugaanku
Saat giliran namaku dipanggil ke mejanya
Melayanglah disisi badan satu buku bertuliskan namaku dan tepat jatuh 1meter dibelakang punggung
dengan ucapan bernada amat datar ‘pulang ke rumah!’
Dengan saksi lima puluhan pasang mata teman seperjuangan!
Tapi ajaib…..
Entah apa yang sedang mendampingi jiwaku
Aku ambil buku itu, berbalik menghadapnya dan aku tatap lurus ke matanya,
dan meninggalkan ‘kandang’ dengan langkah ringan menuju kost
satu pembuktian sudah aku dapatkan,
dia tidak se’killer’ yang aku bayangkan!

Tapi keesokkan harinya, aku menjadi selebritis dadakan dengan banyak komentar tertuju
‘hebat kamu, berani nantang dia’
‘kamu gila ya…dia kan dosen killer’
‘nilai kamu bisa D lho’
‘ingat kamu cewek….’
‘jangan diulangi, kamu bisa diblack list gak bisa ikut matakuliahnya’
Dan seterusnya……….dan banyak lagi
Tapi sungguh aku tidak bermaksud menjadi penantang
Tiba2 sifat masa kecilku timbul
Tidak percaya apa kata orang tentang orang lain
Sampai aku membuktikannya sendiri
Hanya itu

Kejadian itu belum membuatku jera
Kata kakak kelas dia satu2nya dosen yang tidak pernah tertawa di depan mahasiswa
Aku perlu bukti
Beberapa hari setelah kejadian yang pertama
Aku dan teman2 yang lain harus praktek di pekarangan ‘kandang’
Cuaca saat itu sangat mendukung untuk aksi keduaku
Angin sepoi2, matahari masih malas untuk mengeluarkan semua energi, Allah sedang melukis kanvas biru muda dengan semburat putih awan
Saat si’killer’ mendatangi kelompokku
Aku langsung melancarkan aksiku
Tiba2 seketika semua jadi tertegun ketika mendengar
Si’killer’ tertawa sampai seluruh badannya terguncang!!!
Dan kalimat ‘kamu aneh2 aja’ meluncur dari mulutnya,
sambil matanya mengarah lurus ke arahku
Sungguh, sampai saat ini aku lupa dengan apa yang aku ucapkan
Yang membuat si’killer’ tidak bisa menahan tawanya
Mungkin aku sontak jadi amnesia karena sebenarnya aku juga shock dengan kejadian itu
Karena aku sama sekali tidak menyangka si’ killer’ akan bereaksi sehebat itu
Tapi akhirnya, praktikum di hari itu kami selesaikan dengan suasana yang amat sangat nyaman, penuh canda

Tapi sungguh, lagi2 aku bukan penantang
Aku Cuma berpikiran, si’killer’ itu tetap seorang kakek yang sayang cucu2nya, seorang ayah yang melindungi anak2nya, seorang pendidik yang mencintai anak didiknya
Seorang manusia yang pasti punya sisi kelembutan di antara kegarangan di rautnya

Dan satu bukti lagi kalau si’killer’ bukan pendendam
Dia memberiku nilai A di hasil ujian semesteranku

Terimakasih Pak Seno……..
(sayang aku tidak mendengar lagi kabar tentang beliau, semoga selalu sehat di usia senjanya. Amin…)

Jumat, 25 Januari 2008

awal tahun,30 tahun yang lalu....
pertama kali sepasang kaki mungil memasuki dunia baru
dunia yang penuh dengan keceriaan, permainan, ilmu baru, nyanyian

'taman yang paling indah, hanya taman kami
tempat bermain, berteman banyak....'
itu lagu wajib bagi kami saat itu

'tanganku keatas tanganku kesamping
tanganku ke depan duduklah yang manis...'
itu lagu wajib bagi kami saat pagi duduk di kelas

sekolah adalah berarti bermain
berlarian, bernyanyi, bercanda

menulis adalah bermain coretan di atas kertas
berhitung adalah bermain dengan jari
olahraga adalah bermain petak umpet

masa yang penuh dengan kebahagiaan walaupun merasakan sakit
saat terjatuh dari ayunan besi karena diayun terlalu kencang oleh teman
saat jatuh tersungkur karena didorong teman laki-laki yang jail
saat jatuh terpelanting karena melesat terlalu kencang dari perosotan
saat tercebur ke kolam ikan depan sekolah karena bercanda yang berlebihan

banyak memori yang ternyata membuat orangtua bangga
saat tampil main angklung di porseni TK
saat tampil menari di acara perpisahan
saat tampil menyanyi di acara pentas seni
saat tampil ala peragawati di acara sekolah

berlarian diantara rumput2 yang berakibat kaos kaki penuh dengan duri gatal yang menempel
bernyanyi bersama sambil menari dengan diiringi piano oleh ibu guru saat istirahat
berebut dengan teman2 yang lain untuk digendong oleh ibu guru favorit
menangis karena harus berpisah dengan ibu guru favorit
beli jajan es diam-diam dan makan dibelakang sekolah karena dilarang guru
keluar dari kelas hanya untuk jajan karena mendengar suara 'ibu tenong' menjajakan kue
menarik paksa guru saat mengajar untuk menemani ke kamar mandi karena sakit perut

sayang......... kurang lebih 15 tahun kemudian
tempat semua kenangan indah itu harus tergusur
tergantikan oleh bangunan yang lebih menghasilkan keuntungan materi
dari pada sebuah pendidikan dan kebersamaan
tapi semua cerita itu masih dan akan tetap ada di hati kami,
anak-anak TK PUSPITA

Rabu, 23 Januari 2008


ehmmmmmm,senin dini hari.......
18 desember
saat sepi masih enggan digantikan
gelap juga belum mau beranjak
ada satu kehidupan baru hadir di bumi
3thn dari yang pertama bukan waktu yg sebentar
untuk menyiapkan ladang agar benih tumbuh sempurna
ketika benih itu menjelma menjadi satu kehidupan
mestinya bisa menjadi satu kebahagiaan
sayang.....
kehidupan baru itu mesti terabaikan sekian masa
saat ia belum sadar apa makna bernafas
ia harus sadar bahwa bukan sosok seperti ia yang diharapkan
tapi Sang Pencipta adalah Maha Sempurna
kehidupan baru tumbuh tanpa disadari
ia menjadi sosok mungil yang di nanti
sosok yang selalu membuat hidup sepasang manusia jadi lebih bermakna
ternyata masa masih harus berperan untuk menjadikan ia diakui ada