Rabu, 30 Januari 2008

1991, sekitar bulan september...
baru 2 bulan menanggalkan baju putih abu2
rasanya seperti makhluk paling dewasa
karena tanpa terasa telah melewati masa 12 tahun
dengan seragam yang wajib melekat setiap hari
tanpa terasa aku mulai dihadapkan dengan system pembelajaran yang baru

ada satu mata kuliah yang harus dijalani di laboratorium di luar kampus
sekitar 15 menit dari kampus menggunakan sepeda motor

sampai di satu hari aku harus menuju ke sana
sempat ragu ketika menemukan alamat yang tertulis
amat sangat jauh dari bayangan sebuah laboratorium
aku harus memasuki pekarangan yang tertutup pagar besi setengah ambruk
di sebuah rumah tanpa dinding (lebih layak disebut kandang)
dikelilngi barang2 rongsokan (setelahnya aku baru tahu kalau itu adalah alat2 praktikum!)

sempat hati terbawa rasa tidak nyaman
inikah yang dinamakan laboratorium?
rasa sombong juga sempat melintas kala itu
hanya tempat seperti ini yang disediakan
untuk calon2 enginner dengan uang masuk yang tidak murah?
Astagfirullah.............
tapi aku harus ikuti
karena dosen mata kuliah ini terkenal lain dari yang lain
‘killer’, disiplin, anti teori, langsung praktek di lapangan, anti basa basi

ternyata bukan hanya aku yang mengalami shock tiba2
hampir semua teman seperjuangan merasakan hal yang sama
apalagi ketika aku memasuki ruangan yang disebut kelas
hanya tersedia tikar plastik diatas lantai semen,
dengan meja terbuat dari kayu tanpa finishing, tanpa alas
aku harus hati2 agar kulit lenganku tidak tergores saat menulis
dan harus sering2 merubah posisi duduk agar kakiku tidak kram

Ya Allah.... inikah masa yang aku impikan saat masih 'putih abu2?'
teringat dahulu dengan kelas luas, banyak jendela, bangku dan meja yang nyaman,
halaman yang teduh dengan banyak pohon rindang

dan satu ritual yang biasanya ada di jaman ‘putih biru’
sekarang justru harus aku lakoni
setiap masuk dan keluar kelas, buku catatan harus dikumpulkan
agar si’killer’ bisa mengetahui seberapa besar perhatian kami pada materi yang disampaikan
Ya Rabbi, kejutan apalagi ini……….
Lucunya, sifat dasarku tiba2 muncul
Aku ingin membuktikan bahwa si’killer’ itu memang anti basa basi dan disiplin
Di satu pagi, saat harus ke ‘kandang’
Aku sengaja tidak mengerjakan tugasku dengan sempurna
Dan kejadian berikutnya sangat diluar dugaanku
Saat giliran namaku dipanggil ke mejanya
Melayanglah disisi badan satu buku bertuliskan namaku dan tepat jatuh 1meter dibelakang punggung
dengan ucapan bernada amat datar ‘pulang ke rumah!’
Dengan saksi lima puluhan pasang mata teman seperjuangan!
Tapi ajaib…..
Entah apa yang sedang mendampingi jiwaku
Aku ambil buku itu, berbalik menghadapnya dan aku tatap lurus ke matanya,
dan meninggalkan ‘kandang’ dengan langkah ringan menuju kost
satu pembuktian sudah aku dapatkan,
dia tidak se’killer’ yang aku bayangkan!

Tapi keesokkan harinya, aku menjadi selebritis dadakan dengan banyak komentar tertuju
‘hebat kamu, berani nantang dia’
‘kamu gila ya…dia kan dosen killer’
‘nilai kamu bisa D lho’
‘ingat kamu cewek….’
‘jangan diulangi, kamu bisa diblack list gak bisa ikut matakuliahnya’
Dan seterusnya……….dan banyak lagi
Tapi sungguh aku tidak bermaksud menjadi penantang
Tiba2 sifat masa kecilku timbul
Tidak percaya apa kata orang tentang orang lain
Sampai aku membuktikannya sendiri
Hanya itu

Kejadian itu belum membuatku jera
Kata kakak kelas dia satu2nya dosen yang tidak pernah tertawa di depan mahasiswa
Aku perlu bukti
Beberapa hari setelah kejadian yang pertama
Aku dan teman2 yang lain harus praktek di pekarangan ‘kandang’
Cuaca saat itu sangat mendukung untuk aksi keduaku
Angin sepoi2, matahari masih malas untuk mengeluarkan semua energi, Allah sedang melukis kanvas biru muda dengan semburat putih awan
Saat si’killer’ mendatangi kelompokku
Aku langsung melancarkan aksiku
Tiba2 seketika semua jadi tertegun ketika mendengar
Si’killer’ tertawa sampai seluruh badannya terguncang!!!
Dan kalimat ‘kamu aneh2 aja’ meluncur dari mulutnya,
sambil matanya mengarah lurus ke arahku
Sungguh, sampai saat ini aku lupa dengan apa yang aku ucapkan
Yang membuat si’killer’ tidak bisa menahan tawanya
Mungkin aku sontak jadi amnesia karena sebenarnya aku juga shock dengan kejadian itu
Karena aku sama sekali tidak menyangka si’ killer’ akan bereaksi sehebat itu
Tapi akhirnya, praktikum di hari itu kami selesaikan dengan suasana yang amat sangat nyaman, penuh canda

Tapi sungguh, lagi2 aku bukan penantang
Aku Cuma berpikiran, si’killer’ itu tetap seorang kakek yang sayang cucu2nya, seorang ayah yang melindungi anak2nya, seorang pendidik yang mencintai anak didiknya
Seorang manusia yang pasti punya sisi kelembutan di antara kegarangan di rautnya

Dan satu bukti lagi kalau si’killer’ bukan pendendam
Dia memberiku nilai A di hasil ujian semesteranku

Terimakasih Pak Seno……..
(sayang aku tidak mendengar lagi kabar tentang beliau, semoga selalu sehat di usia senjanya. Amin…)

Tidak ada komentar: