
23 Mei 2004.....
Aku seperti tidak percaya
Aku sedang duduk didepan tubuh yang terbujur dingin
Tubuh yang tertutup kain batik coklat berbau parfum yang amat aku kenal
Kucubit lenganku, sakit.....
Aku sedang tidak bermimpi
Kali ini aku tidak bisa berharap ada yang membangunkan aku dari mimpi buruk
Saat histeris berteriak karena ditinggal pergi orang yang aku kasihi
Aku benar2 tidak sedang bermimpi
Aku sedang menunggui tubuh dingin milik sosok yang luar biasa dalam hidupku
Pelindungku, pahlawanku, motivatorku, sahabatku, guruku, lawan berdebatku, idolaku, sekutuku, penuntunku, tempat curahan hatiku......
Aku menangis
Sungguh bukan karena aku tidak ikhlas karena kepergiannya
Tapi aku merasa belum secuilpun bisa membahagiakannya
Masih terlalu banyak rencana dan angan2 yang harus aku akhiri
Tanpa pernah bisa lagi mewujudkannya
Itu yang aku sesali
Dalam rasa yang remuk
Aku teringat kenangan2 manis bersamanya
Saat racun mulai menjalar ditubuhku karena tergigit binatang ubur2 biru ditepi pantai
Beliau luarbiasa panik membawaku ke rumah sakit
Saat sepeda baru terpajang di teras rumah menanti kedatanganku dari sekolah
Beliau tersenyum bahagia karena bisa memberiku kejutan
Saat demam berdarah memakan butir2 darahku dan aku nyaris kehilangan kesadaran
Beliau terduduk lemas karena begitu sulit mendapatkan donor yang cocok
Saat aku pulang dari meminjam buku ke rumah teman lebih dari jam 6 sore
Beliau menungguku dengan kekhawatiran juga kemarahan karena melanggar jam malam
Saat aku beraksi dengan tongkat mayoretku
Beliau dengan bangga mengambil pose2ku melalui kamera tuanya
Saat aku menerima gelar sarjana
Beliau menatapku dengan penuh haru
Saat aku bersanding di pelaminan
Beliau lekat mengawasiku seperti takut kehilangan gadis kesayangannya
Begitu banyak kenangan itu......
Anehnya, di hari beliau akan meninggalkan aku
Banyak kejadian yang diluar kewajaran
Kenapa kartu ATM atas nama Beliau tidak bisa digunakan, padahal sehari sebelumnya masih lancar difungsikan
Kenapa puluhan ikan peliharaan Beliau yang dibeli sendiri mati mendadak, padahal ikan2 titipan adik yang lain masih hidup normal?
Kenapa kakak memerintahkan penunggu rumah untuk menyingkirkan kursi2 didalam rumah untuk dikeluarkan, padahal kakak tidak tahu maksud perintahnya sendiri
Kenapa aku terasa berat meninggalkan beliau sedetikpun di ruang ICU, padahal raga ini sama sekali belum mendapatkan asupan apapun
Ternyata semua itu adalah pesan2 dari surga
Yang sama sekali aku tidak bisa memaknai di masa itu
Tapi ada rasa ringan saat melepasnya
Karena diakhir2 hidup beliau
Sedikitpun beliau tidak mau melupakan untuk selalu mengingatNya
Kewajiban sebagai umatNya selalu beliau tunaikan di awal waktu
Bahkan selama 2 minggu terbaring lemah di rumah sakit
Beliau selalu memintaku menuntunnya untuk terus berzikir mengingatNya
Dan di akhir nafas beliau, kalimat terakhir yang terdengar adalah
La ilaha ilallah, tiada Tuhan selain Allah.....
Innalillahi wa ina ilaihi roji’un
Aku tidak bisa menahan sukma beliau untuk berpisah dari raganya
Aku tidak mampu
Aku harus membiarkan Allah mengambil kembali milikNya
Bapak.....
Aku ikhlas melepas
Walaupun rasanya ruhku ikut tercabut
Sehingga sepertinya raga tidak lagi punya semangat untuk hidup
Aku akan terus berusaha menjadi gadis kesayanganmu
Aku akan terus memenuhi tabungan akhiratmu dengan doa anak yang solehah
Tidurlah dengan pulas dalam ruang yang nyaman, sejuk, damai, tenang, terang, luas......
Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar